• Home
  • About
  • Contact
Powered by Blogger.
instagram youtube

a part of Anisa

Di zaman yang udah serba canggih begini, semua orang mudah untuk mencurahkan isi hati, berkomentar, menuangkan apapun yang ada di pikirannnya ke sebuah mesin atau yang sering orang-orang sebut dengan media sosial, hmmm atau mungkin sebagian orang menganggap mesin tersebut buku diary, jadi dia bisa menuliskan semuanya tanpa memperdulikan lagi mana yang seharusnya konsumsi pribadi dan konsumsi publik.
Salah satu contoh dari media sosial itu adalah Path. Sebagian besar orang pastilah punya akun di Path, hmmh setelah beberapa lama saya gak buka path sekalinya buka path jadi bingung. Kebanyakan teman di Path saya mengupload foto makanannya, mengupdate lokasinya saat itu, foto tiket bioskop, dan lain lain yang masiiih banyak lagi. Malah kadang ada yang upload kalo lagi ibadah.
Jujur saya dulu pernah ada di masa itu, ingin orang-orang tahu apa yang saya lakukan, di hati ada rasa bangga, ada rasa sombong. Ya Allah rasanya kok gak tau diri banget saat itu, merasa lebih dari yang lain, merasa termasuk anak gaul dan kekinian kalo makan di sini, makan di situ, lagi di sini, sama si ini dan si itu. Rasanyaa duuuh malu-malu. Banyaaak bangeeet dosanya, malah bangga dengan hal-hal yang kayak gitu ;(
Namun akhirnya sadar, jangan sampai kita menjadi sombong, bangga dengan hal-hal yang gak bisa kita bawa mati. Harusnya media sosial tersebut kita jadikan ladang dakwah bukan ajang pamer. Hmmh
Tapi saya tidak tahu pasti tujuan teman-teman di Path untuk memposting itu semua, semoga tidak seperti saya dahulu yang hanya ingin orang lain tahu kemudian berbangga hati. Astagfirullahaladzim. Namun jika masih ada yang niatnya seperti itu semoga suatu saat disadarkan oleh Allah SWT. Aamiin
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Beberapa hari yang lalu sempet sebel sama temen sekosan yang gak tanggung jawab sama tugasnya, terus akhirnya ngegantiin dia buat ngejalanin tugasnya tapiiih mungkin niat baik kita gak selalu di anggap baik dimata orang lain. Sebenarnya ini bukan kejadian pertama kali, sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi hal yang sama tapi pada kasus yang berbeda. Sempat terbesit didalam hati kok mereka tega ngomong kayak gitu padahal niat kita baik, dan saya sempat perfikiran negatif ke mereka. Astagfirullahaladzim  -_- Rasanya malu kalo ingat hal kayak gitu lagi. Tiba-tiba tadi buka buku catatan harian pas semester 3 di S1 nemu note yang isinya kayak gini :
"Menjadi baiklah, mulailah dari hal yang kecil-kecil dan sederhana. Ulangi dan ulangi hingga benar-benar terbiasa. Bila sudah terbiasa maka akan menjadi kebiasaan. Biasa menjadi baik, maka saat itu menjadi baik adalah kebutuhan, lagi dan lagi"
Entah dari mana dapat note itu, tapi yang jelas isinya nancep banget di hati. Ya Allah kadang kita tu udah ngelakuin kebaikkan tapi belum ikhlas, belum tulus, belum benar-benar ridho. Harusnya kalo ikhlas udah gak perduliin lagi omongan orang, yang penting kita baik aja. Kalo kata aagym yang penting Allah ridho. Gak perlulah kita mau dianggap baik, meskipun niat kita udah baik toh yang tau isi hati dan niat kita cuma Allah. Buat apa kita berfikiran negatif, asal yang kita tuju ridhonya Allah lakukan sebaik mungkin, seikhlas-ikhlasnya.

Abis dari situ rasanya sadar kadang kita lupa tujuan melakukan kebaikkan-kebaikkan itu, bahwa dari semua hal yang kita lakukan hanya untuk mencari ridho Allah. Biarlah beribu-ribu orang menghina kita, menjauhi kita asalkan jangan Allah.

Belum lagi kalo ingat kisahnya Rasulullah yang luar biasa bangeeet -_-, sabaaarnya ketika menghadapi cacian, makian padahal tujuan Beliau untuk keselamatan kita. Semoga dengan ini bisa lebih baik lagi, bisa muhasabah diri lagi. Aamiin
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

"Karena kita tidak pernah berada di kaki yang sama begitupun beban yang dipikul tidaklah pernah sama"
Sebagian dari kita pasti pernah membayangkan menjadi orang lain ketika orang tersebut sukses tapi kita tidak pernah tahu berapa banyak perjuangan, kesakitan dan air mata yang telah mereka korbankan sehingga dapat sessukses sekarang.
Begitupun suatu keputusan yang kita anggap tidak baik, namun orang lain mengambil jalan tersebut. Ketika orang memilih pendiam dibandingkan banyak bicara, memilih memperhatikan dari pada diperhatikan, memilih mengalah dari pada menang, memilih menjadi ibu rumah tangga daripada wanita karir, memilih pasangan hidup yang sederhana dibanding yang tajir, memilih yang apa adanya daripada yang berlebihan. Jika kita melihat dari sudut pandang kita maka terkadang kata-kata yang keluar bukanlah yang baik, kita mengasihani padahal mereka merasa sangat bahagia, kita sibuk mencibir padahal mereka tak peduli. Itulah hidup, apapun yang kita lakukan akan ada saja orang yang berkomentar. Satu hal yang tak perlu kita risaukan, jika kita benar maka omongan orang lain hanyalah puing-puing penambah pahala kita.
Janganlah pandang suatu hal dari sudut mata kita, coba bukalah mata terutama mata hati untuk lebih memahami apa yang orang lain rasa. Tanamkan fikiran positif, dan ingat bahwa semua orang itu berbeda-beda. Orang-orang memiliki cara berfikirnya masing-masing, jika yang mereka lakukan untuk hal yang benar maka kita harusnya dapat menerima.
Dengan penerimaan yang ikhlas dan dalam, maka hidup kita kan lebih membahagiakan, hidup kita akan lebih menenangkan. Dukung mereka dengan baik . Hargai setiap keputusan yang mereka ambil, karena sejatinya hidup ini saling berbagi dan memahami.
 Selamat membahagiakan hati ^^


Jogja 17 Maret 2015
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Seperti yang sudah sudah, entah kenapa sering sekali mengalami saat saat seperti ini, kayak butuh dorongan dari orang orang yang tersayang, butuh motivasi, butuh nasehat nasehat baik. Duh kan ini terjadi lagi. Sama seperti ketika mengerjakan skripsi dulu dan saat habis wisuda kemarin bingung mau melangkah kemana. Allahurobbi. Mari tenangkan diri sejenak. Bismillah bismillah pasti bisa.

Kenapa seperti ini lagi, padahal sudah sering mengalaminya. Seharusnya aku bisa berlatih dari kejadian-kejadian sebelumnya. Seharusnya bisa bangkit sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tepatnya ahad (23 Nov 2014) sekitar pukul 20:30, kabar duka itu akhirnya tiba kepadaku bahwa mbah putri sudah menghembuskan nafas terakhirnya dan pergi untuk selama-lamanya. Tentu saja aku sangat sedih, beberapa bulan yang lalu mbah uti memilih untuk datang ke riau mengunjungi anak-anak dan cucunya. Saat itu aku baru mengerti bagaimana sebenarnya kasih sayang seorang nenek pada cucunya, dan mengerti cinta yang di berikan mbah untuk ibu. Karena tinggal jauh dari sanak saudara, aku tidak pernah pergi ke acara besar keluarga. Baik pernikahan ataupun kematian. Yang aku tahu hanya ibu, bapak, hasan dan tole.

Namun kini aku bisa mengerti apa rasanya kehilangan untuk selama-lamanya. Tapi kusadari bukan aku yang paling sedih. Ibu.. Ibu jauh lebih sedih dari padaku. Malam itu ibu menelpon sambil menangis, dan akupun tak kuasa untuk menahan air mata. Saat itu bapak sedang ada acara sekolah ke sumbar tinggallah ibu dan hasan hanya berdua di rumah. Kepergian mbah sungguh menyedihkan juga sangat menyedihkan mendengar orang yang kita cintai menangis. Sebisa mungkin aku menahan tangis agar tidak membuat ibuku semakin panik, menenangkan ibuku, mengatakan bahwa mbah uti udah tenang bu nanti ketemu mbah kakung di surga. Ibu yang sabar, InshaaAllah mbah uti lebih bahagia di sana. Setelah beberapa saat akhirnya ibukupun tenang dan mulai bisa menerima kenyataan. Kemudian menutup telpon karena ingin mengabari tole yang saat itu sedang tugas praktikum di jember dan mengabari keluarga bapak di blitar. Dan aku memutuskan untuk ke solo keesokkan harinya dengan kereta api keberangkatan paling awal.

Mbah uti pergi dengan tenang, saat subuh dan juga zuhur beliau masih bisa sholat berjamaah di mesjid, lalu setelah zuhur minta diantarkan ke kebun, pada saat di kebun beliau merasakan kepalanya sakit. Kemudian keluarga di sana membawanya ke rumah sakit, lalu sekitar pukul 20:30 beliau meninggal dengan tenang. Seperti orang yang sedang tertidur, tak terlihat seperti kesakitan. Bahkan bude yang menjaga mbah saat di rumah sakit tidak menyadari kalau mbah uti telah meninggal. Begitulah hidup pada akhirnya akan kembali dengan sang Pencipta tapi bagaimana cara kita menjemput ajal sangatlah berbeda-beda. Tergantung pada amal perbuatan kita di dunia. Yang paling ku sadari sejauh apapun aku mencari dunia, semua akan sia-sia. Terlalu sibuk memikirkan hidup enak tapi lupa bagaimana memikirkan mati enak.

Satu hal lagi yang sering ku pikirkan setelah kepergian mbah uti, apakah aku akan mengalami seperti apa yang ibuku alami saat ini? Pastilah sangat menyedihkan. Namun pasti inilah yang terbaik dari Allah.

Terimakasih ya Allah. hanya Engkaulah yang mampu menyelamatkan kami dari kesesatan dan hanya Engkau yang memapu menunjukki kami jalan yang lurus. Teguhkanlah hati kami, langkah kami, ucapan kami di jalan Mu untuk mendapat keridhoan darimu. Ampunilah dosa mbah uti, terimalah amal ibadanya, jauhkanlah dari siksa kubur dan azab api neraka. Aamiin


Mbah uti dan Ibu

selamat jalan mbah uti, doa kami selalu menyertaimu <3



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Ads

About Me

About Me

Hello, Iam Anisa :)
a Mom. Amateur blogger.
Welcome to my blog :)

Popular Posts

  • Kerja Praktek (KP) di Chevron Pacific Duri Riau
  • Solusi Tepat Atasi Anyang-Anyangan Dengan Uri-Cran
  • 5 Rekomendasi Channel YouTube Berbahasa Inggris Untuk Anak Usia Dini
  • Pengalaman Snow Tubing
  • Tips Melepaskan Kecanduan TV dan Gadget Pada Anak Usia Dini

Follow Us

  • instagram
  • youtube

recent posts

Categories

1minggu1cerita amerika Anak Anyang-anyangan Badminton being mother Bengkel Diri blogging cantik dengan hijab Daffa Dokter Enny Dokter Kandungan terbaik eczema fakta hamil family for my children Hadiah hamil hidup hijab hijrah idul fitri Industrial Engineering Infeksi Saluran Kemih Islam just story kehidupan Kerinduan Kesehatan Keuangan LDM LDR Life lifemustgoon Lifestyle Marriage Me melahirkan menjadi lebih baik Menyapih mitos hamil Muhasabah My Mom Obgyn Jogja Olimpiade Rio Parenting Pembelajaran pengalaman melahirkan proseshijrah Qlapa random thought Resep review semangat Someone suporter teknologi Terrible Two Toilet Training traveling Uri-Cran Video Washington DC winter YouTube

Blog Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  October (1)
      • 2020
  • ►  2019 (4)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  May (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (34)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  April (5)
    • ►  March (8)
    • ►  February (13)
  • ►  2017 (3)
    • ►  November (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2016 (57)
    • ►  December (9)
    • ►  November (5)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (6)
    • ►  January (4)
  • ►  2015 (22)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (3)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
  • ►  2014 (31)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  July (4)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (11)
    • ►  February (5)
    • ►  January (4)
  • ►  2013 (7)
    • ►  December (5)
    • ►  September (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (5)

Blogger Perempuan Network

Blogger Perempuan

Kumpulan Emak Blogger

Kumpulan Emak Blogger

Created with by ThemeXpose